METROSIANTAR.com, SIANTAR - Sejumlah jurnalis di Siantar membentuk Komunitas Lensa untuk Demokrasi (KLuD) Siantar-Simalungun. Komunitas dimaksud merupakan organisasi independen yang berdiri guna menyiapi proses berjalannya Pemilu 2014.
Dewan pendiri KLuD Andi Siahaan kepada METRO, Senin (17/3) menerangkan, komunitas mereka berdiri akhir Februari 2014 lalu dilatarbelakangi adanya keresahan masyarakat atas pesta demokrasi yang akan berlangsung.
KluD mencermati, tahun 2014 merupakan tahun politik dimana gejolak politik dipastikan terus berlangsung dan dimanfaatkan para aktor politik untuk memenuhi ruang-ruang publik dan media. Saling berlomba menunjukkan diri sendiri dan kelompoknya paling layak memegang kendali bangsa ini.
Dia menilai, parpol maupun calon legislatif (caleg) berlomba mengambil hati rakyat dengan berbagai cara. Bahkan memanfaatkan psiko-sosial rakyat agar menjadi pemilih transaksional, bukan memberikan pendidikan politik agar menjadi pemilih yang cerdas. “Kami meyakini banyak caleg melakukan kecurangan diantaranya money politik, pengelembungan suara dan kecurangan lain,” ujar Andi.
Dia menegaskan, kehadiran KluD berupaya membantu agar perjalanan demokrasi dapat meminimilisir kecurangan yang terjadi. Adapun upaya yang akan dilakukan, melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap jalannya pemilihan umum dengan cara menerima segala bukti visual dari masyarakat terkait kecurangan pemilu.
Melibatkan masyarakat dengan memberikan training singkat, supaya bisa melakukan dan menjadi citizen jurnalis yang bersifat investigatif. Menjalin kerjasama dengan media, agar segala karya jurnalisme milik masyarakat terkait kecurangan pemilu bisa disebar luaskan atau dipublikasikan.
“Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan teknologi untuk kebaikan.
Saat ini hampir 40 persen masyarakat memiliki alat komunikasi seperti telepon genggam (handphone) dilengkapi perekam visual ataupun alat perekam lainnya. Itu bisa digunakan merekam semua kecurangan yang dilakukan caleg, parpol maupun pihak lain. Dengan merekam segela bentuk kecurangan itu, secara otomatis masyarakat telah melakukan citizen jurnalisme yang bersifat investigatif,” pungkas Andi.
Dia menambahkan, KLuD menerima bentuk visual (rekaman video) dari masyarakat yang mengungkapkan kecurangan. Kemudian rekaman dibagikan kepada edia elektronik, cetak dan media online agar segala kecurangan bisa dipublikasikan.
“Kami akan berikan reward bagi mereka yang memberikan rekaman kecurangan itu. Kami juga memberikan pendampingan atau advokasi terhadap masyarakat yang mau melaporkan kecurangan ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan Sentra Gakumdu.
Tapi kita hanya menerima rekaman video yang benar-benar valid dan tidak ada unsur rekayasa, sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara hukum,” ujar Andi. (rel/osi/spy)

SOCIALIZE IT →